Selasa, 12 Mei 2009
BUSSINES PLAN
RINGKASAN EKSEKUTIF
Rumput laut atau sea weed merupakan salah satu tanaman laut yang keberadaanya sudah tidak asing lagi dikalangan masyarakt terutama masyarakat pesisir. Indonesia merupakan salah satu Negara no 2 terbesar sesudah Filipina yang memproduksi rumput laut karena dua pertiga wilayah Indonesia merupakan lautan yang sangat potensial di bidang perikanan terutama rumput laut. Daerah penyebaran rumput laut hampir di seluruh wilayah Indonesia. Rumput laut juga merupakan salah satu tanaman laut yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Nilai ekonomis dapat dilihat dari kandungan yang dihasilkan antara lain keragenan, agar, dan alginat yang merupakan bahan campuran pada setiap produk pangan maupun non pangan.
Pendirian bisnis ini adalah sebagai wadah usaha yang berusaha mewujudkan tujuan utama desa Patas. Tujuan utama didirikannya usaha ini adalah untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya, tanpa keluar dari jalur bisnis yang sesuai dengan aturan yang baik dan benar. Tujuan sosial dari perusahaan ini adalah membantu mengurangi pengangguran dan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat desa Patas dan memeperbaiki sistem perekonomianya.
DAFTAR ISI
RINGKASAN EKSEKUTIF………………………………………………………. 1
DAFTAR ISI……………………………………………………………………… 2
PENDAHULUAN………………………………………………………………… 3
PRODUK JASA YANG DITAWARKAN……………………………………… 4
ASPEK MANAJEMEN…………………………………………………………… 5
ASPEK TEKNIS…………………………………………………………………… 7
ASPEK PEMASARAN…………………………………………………………… 11
ASPEK KEUANGAN…………………………………………………………… 12
ASPEK SOSIAL EKONOMI…………………………………………………… 13
ASPEK LINGKUNGAN………………………………………………………… 13
BUDIDAYA RUMPUT LAUT (Eucheuma cottonii) DI DESA PATAS GUNA MEMENUHI KEBUTUHAN PASAR INTERNASIONAL
I. PENDAHULUAN
Rumput laut atau sea weed merupakan salah satu tanaman laut yang keberadaanya sudah tidak asing lagi dikalangan masyarakat terutama masyarakat pesisir. Indonesia merupakan salah satu Negara no 2 terbesar sesudah Filipina yang memproduksi rumput laut karena dua pertiga wilayah Indonesia merupakan lautan yang sangat potensial di bidang perikanan terutama rumput laut. Daerah penyebaran rumput laut hampir di seluruh wilayah Indonesia. Rumput laut juga merupakan salah satu tanaman laut yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Nilai ekonomis tinggi dapat dilihat dari kandungan yang dihasilkan antara lain keragenan, agar, dan alginat yang merupakan bahan campuran pada setiap produk pangan maupun non pangan.
Potensi rumput laut ini tersebar di seluruh perairan Indonesia kurang lebih 2 juta ha yang dapat dimanfaatkan secara efektif untuk budidaya (Tabel 1).
Peningkatan taraf hidup masyarakat desa Patas harus ditingkatkan melihat desa Patas merupakan daerah endemik yang perekonomianya tidak stabil ini disebabkan desa Patas kekurangan lapangan pekerjaan sehingga banyaknya pengganguran terutama masyarakat pesisir. Berjalanya bisnis produksi rumput laut ini diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat dan peningkatan sistem perekonomian desa Patas serta mengurangi pengganguran
Pendirian bisnis ini adalah sebagai wadah usaha yang berusaha mewujudkan tujuan utama desa Patas. Tujuan utama didirikannya usaha ini adalah untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya, tanpa keluar dari jalur bisnis yang sesuai dengan aturan yang baik dan benar. Tujuan sosial dari perusahaan ini adalah membantu mengurangi pengangguran dan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat desa Patas dan memeperbaiki sistem perekonomianya.
II. ASPEK MANAJEMEN
Struktur organisasi usaha
Pemilik Modal atau Pembudidaya
Tugas utamanya adalah mengelola budidaya. Dalam bidang ini yaitu bisnis budidaya rumput laut, pemilik harus memiliki pengetahuan yang mendalam mulai dari berapa pengucuran dana awal untuk proses produksi, pembuatan model, pemilihan bahan baku, produksi, sampai pemasaran dan pemilik perusahaan juga sebagai penanggung jawab utama atas surut atau berkembangnya perusahaan.
Karyawan
Budidaya rumput laut tidak harus menggunakan tenaga yang terampil. Karyawan bisa kita ambil dari para nelayan yang tidak memilki pekerjaan dan tidak tetap sebagai nelayan, biasanya para nelayan sudah ada yang memiliki pengalaman di bidang budidaya rumput lauyt.
III. ASPEK TEKNIS
LOKASI BUDIDAYA
Lokasi budidya dilaksanakan di pesisir desa Patas Kecamatan Gerokgak, Bali.
Teknik budidaya rumput laut dapat dibagi atas 4 tahap antara lain:
1) Pemilihan Lokasi
2) Persiapan Penanaman
3) Penanaman
4) Pemeliharaan
1 Pemilihan Lokasi
Keberhasilan budidaya rumput laut sangat ditentukan olah penentuan lokasi. Hal ini dikarenakan produksi dan kualitas rumput laut dipengaruhi oleh faktor – faktor ekologi yang meliputi kondisi substrat perairan, kualitas air, iklim, dan geografis dasar perairan. Kondisi dasar perairan yang baik bagi habitat rumput laut berupa pasir kasar yang bercampur dengan pecahan karang. Tingkat kejernihan air untuk budidaya E. cottonii keadaan perairan relatif jernih dengan tingkat kecerahan tinggi dan tampakan dengan alat sechidisk mencapai 2 – 5 m. Salinitas yang baik untuk pertumbuhan E. cottonii yang optimal berkisar antara 28 – 33 permil. Suhu air optimal untuk tanaman berkisar 26 – 30 oC. Pergerakan air untuk E. cottonii terlindung dari arus dan hempasan ombak yang terlalu kuat. Pergerakan air berkisar 0,2 – 0,4 m/detik. Kedalaman air yang ideal bagi budidaya pada saat surut terendah 0,40 m sampai kedalaman matahari bisa mencapai tanaman dan petani mampu melakukan kegiatan. Budidaya juga harus memeperhatikan predator dan kompetitor seperti ikan baronang, penyu, bulu babi, dan herbivora lainya.
2 Persiapan Penanaman
Persiapan penanaman rumput laut E. cottonii meliputi penyediaan peralatan budidaya sesuai dengan metode yang akan digunakan serta penyediaan bibit yang baik. Secara garis besar peralatan yang digunakan antara lain patok kayu, bambu, jangkar, tali polietilen (tambang plastik), tali raffia, dan pelampung. Persiapan penanaman yang paling penting yaitu pemilihan dan penanganan bibit rumput laut sebelum ditanam.
Kriteria bibit yang baik antara lain:
1) Bibit yang digunakan merupakan thallus muda bercabang banyak, rimbun, dan berujung runcing.
2) Bibit tanaman harus sehat dan tidak terdapat bercak , luka, atau terkelupas sebagai akibat terserang penyakit ice – ice atau terkena bahan cemaran seperti minyak.
3) Bibit rumput laut E. cottonii harus terlihat segar dan berwarna cerah, yaitu coklat merah, dan hijau cerah.
4) Bibit harus seragam dan tidak boleh bercampur dengan jenis lainya.
5) Berat bibit awal diupayakan seragam , sekitar 100 gram per ikatan/ rumpun.
3 Penanaman
Metode yang digunakan masyarakat desa Patas yaitu metode rawai karena merupakan cara yang paling fleksibel dalam pemilihan lokasi dan juga biaya yang dikeluarkan lebih murah. Teknik budidaya rumnput laut E. cottonii dengan metode rawai sebagai berikut:
1) Ikat bibit rumput laut pada tali ris dengan jarak 25 cm dan panjang tali ris mencapai 50 – 70 m yang direntangkan pada tali utama.
2) Ikatkan tali jangkar pada kedua ujung tali utama yang dibawahnya sudah diikatkan pada jangkar, batu karang, atau batu pemberat.
3) Untuk mengapungkan rumput laut, ikatkan pelampung dari sterofoam, botol Aqua, atau pelampung khusus pada tali ris.
4) Ikatkan pelampung – pelampung tersebut dengan tali penghubung ke tali ris sepanjang 10 – 15 cm supaya rumput laut tidak mengapung di permukaan dan tanaman diupayakan tetap berada pada kedalaman 10 – 15 cm di bawah permukaan air laut.
Peralatan dan bahan yang diperlukan untuk satu blok yang terdiri dari 6 rentangan tali ris dengan luas balok satu balok ( 5 x 50 ) m (panjang tali ris 50 m dengan jarak antar tali ris 1 m) antara lain sebagai berikut:
1) Tali ris polietilen Ǿ 8 mm sebanyak 8 kg.
2) Tali jangkar dan tali utama polietilen Ǿ 10 mm sebanyak 4,5 kg, tergantung dari kedalaman air.
3) Jangkar, patok kayu, atau batu pemberat sebanyak 4 buah.
4) Tali raffia, satu gulung kecil sebanyak 2 kg.
5) Bibit rumput laut sebanyak 100 kg.
6) Pelampunng utama sebanyak 6 buah
7) Pelampung kecil botol polietilen sebanyak 100 buah
8) Peralatan lainya, berupa keranjang, pisau dan sampan.
4 Pemeliharaan
Pemeliharaan pertumbuhan rumput laut untuk metode rawai yaitu membersihkan lumpur dan kotoran yang melekat pada rumput laut, menyulam rumput laut yang rusak atau terlepas dari ikatan, mengganti tali, patok, bambu, dan pelampung yang rusak dan menjaga tanaman dari serangan predator.
VI. ASPEK PEMASARAN
Segmentasi Pasar
Di beberapa bagian sebelumnya sudah sangat jelas bahwa target pasar dari bisnis budidaya rumput laut E. cottonii adalah para perusahaan pangan dan non pangan yang menggunakan campuran rumput laut sebagai pengolahan produknya. Produk ditawarkan nantinya juga akan sangat memperhatikan peluang pasar baik nasional maupun internasional.
Strategi Pemasaran
Dalam pemasarannya kami sudah merencanakan bahwa hasil dari budidaya rumput laut antara lain akan dipasarkan melalui :
1) Para distributor rumput laut
2) Masyarakat sekitar desa Patas
Selain target pemasaran di atas kami juga akan bekerja sama dengan Dinas Perikanan kota Singaraja untuk mencarikan para pembeli rumput laut kering maupun basah dalam jumlah yang besar.
V. ASPEK KEUANGAN
Uraian jumlah Harga satuan jumlah
Modal
1 Tali 8mm (kg) 8 20.000 160.000
2 Tali 9-10 mm (kg) 4,5 20.000 90.000
3 Botol mineral 1000 100 100.000
4 Pelampung utama 6 5.000 30.000
5 Tali raffia (kg) 2 5.000 10.000
6 Bibit rumput laut (kg) 100 1.500 150.000
7 Perizinan 1 100.000 100.000
8 Sampan 1 150.000 150.000
TOTAL MODAL 790.000
IV. ASPEK SOSIAL EKONOMI
Dengan adanya usaha budidaya rumput laut ini selaku pengusaha mencoba untuk membantu mengembalikan kondisi ekonomi masyarakat desa Patas saat ini yang sudah mulai bangkit. Meskipun sudah mulai pulih akan tetapi banyak masyarakat desa Patas yang masih memerlukan lapangan pekerjaan tambahan. Oleh sebab itu usaha bisnis budidaya rumput laut ini diharapkan mampu untuk menyerap tenaga-tenaga kerja baru yang tadinya tidak mempunyai pekerjaan dan penghasilan. Disamping itu secara psikologis para pekerja yang tadinya menganggur bisa lebih merasa percaya diri dan berguna di lingkungan masayarakat.
Bila dilihat dari sisi hasil produksi nantinya. Jika semakin banyak produk yang berhasil diproduksi lalu dijual ke konsumen secara kontinyu dan berkesinambungan maka kami sebagai pihak pengusaha optimis bahwa akan meningkatkan pendapatan dan kesehjateraan kami sebagai pengusaha. Bukan itu saja nantinya keuntungan juga akan bisa dirasakan oleh pihak pemerintah yaitu meningkatnya pendapatan dari sektor pajak.
V. ASPEK LINGKUNGAN
Ditinjau dari segi aspek lingkungan terlihat tidak ada masalah berarti yang dapat merusak lingkungan hidup, melainkan dapat melestarikan pantai yang digunakan dalam proses budidaya rumput laut yang notabene merupakan tanaman yang berada di daerah pesisir yang memiliki nilai ekonomis tinggi.
Senin, 04 Mei 2009
BUSSINES PLAN
RINGKASAN EKSEKUTIF
Rumput laut atau sea weed merupakan salah satu tanaman laut yang keberadaanya sudah tidak asing lagi dikalangan masyarakt terutama masyarakat pesisir. Indonesia merupakan salah satu Negara no 2 terbesar sesudah Filipina yang memproduksi rumput laut karena dua pertiga wilayah Indonesia merupakan lautan yang sangat potensial di bidang perikanan terutama rumput laut. Daerah penyebaran rumput laut hampir di seluruh wilayah Indonesia. Rumput laut juga merupakan salah satu tanaman laut yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Nilai ekonomis dapat dilihat dari kandungan yang dihasilkan antara lain keragenan, agar, dan alginat yang merupakan bahan campuran pada setiap produk pangan maupun non pangan.
Pendirian bisnis ini adalah sebagai wadah usaha yang berusaha mewujudkan tujuan utama desa Patas. Tujuan utama didirikannya usaha ini adalah untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya, tanpa keluar dari jalur bisnis yang sesuai dengan aturan yang baik dan benar. Tujuan sosial dari perusahaan ini adalah membantu mengurangi pengangguran dan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat desa Patas dan memeperbaiki sistem perekonomianya.
DAFTAR ISI
RINGKASAN EKSEKUTIF………………………………………………………. 1
DAFTAR ISI……………………………………………………………………… 2
PENDAHULUAN………………………………………………………………… 3
PRODUK JASA YANG DITAWARKAN……………………………………… 4
ASPEK MANAJEMEN…………………………………………………………… 5
ASPEK TEKNIS…………………………………………………………………… 7
ASPEK PEMASARAN…………………………………………………………… 11
ASPEK KEUANGAN…………………………………………………………… 12
ASPEK SOSIAL EKONOMI…………………………………………………… 13
ASPEK LINGKUNGAN………………………………………………………… 13
PRODUKSI AGAR DARI RUMPUT LAUT SECARA SEDERHANA DI DESA PATAS GUNA MEMENUHI PELUANG PASAR INTERNASIONAL
I. PENDAHULUAN
Rumput laut atau sea weed merupakan salah satu tanaman laut yang keberadaanya sudah tidak asing lagi dikalangan masyarakat terutama masyarakat pesisir. Indonesia merupakan salah satu Negara no 2 terbesar sesudah Filipina yang memproduksi rumput laut karena dua pertiga wilayah Indonesia merupakan lautan yang sangat potensial di bidang perikanan terutama rumput laut. Daerah penyebaran rumput laut hampir di seluruh wilayah Indonesia. Rumput laut juga merupakan salah satu tanaman laut yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Nilai ekonomis tinggi dapat dilihat dari kandungan yang dihasilkan antara lain keragenan, agar, dan alginat yang merupakan bahan campuran pada setiap produk pangan maupun non pangan.
Potensi rumput laut ini tersebar di seluruh perairan Indonesia kurang lebih 2 juta ha yang dapat dimanfaatkan secara efektif untuk budidaya (Tabel 1).
Peningkatan taraf hidup masyarakat desa Patas harus ditingkatkan melihat desa Patas merupakan daerah endemik yang perekonomianya tidak stabil ini disebabkan desa Patas kekurangan lapangan pekerjaan sehingga banyaknya pengganguran terutama masyarakat pesisir. Berjalanya bisnis produksi rumput laut ini diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat dan peningkatan sistem perekonomian desa Patas serta mengurangi pengganguran
Pendirian bisnis ini adalah sebagai wadah usaha yang berusaha mewujudkan tujuan utama desa Patas. Tujuan utama didirikannya usaha ini adalah untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya, tanpa keluar dari jalur bisnis yang sesuai dengan aturan yang baik dan benar. Tujuan sosial dari perusahaan ini adalah membantu mengurangi pengangguran dan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat desa Patas dan memeperbaiki sistem perekonomianya.
PRODUK DAN JASA YANG DITAWARKAN
Produk yang akan dihasilkan dari pengolahan rumput laut adalah agar yang merupakan bahan campuran pada setiap produk pangan dan non pangan. Pengolahan agar ini menggunakan rumput laut jenis Gracilaria yang merupakan pengahsil agar tertinggi diantara jenis rumput laut. Pembuatan agar secara sederhana dapat dilakukan dalam skala usaha kecil (UKM). Peralatan yang digunakan lebih efektif dan tidak sulit untuk dicari, sehingga dalam pengolahanya tidak terlalu sulit. Berjalanya bisnis ini tidak lain untuk memenuhi peluang pasar secara internasional dan dapat menekan penganggura.
II. ASPEK MANAJEMEN
Struktur organisasi usaha
Pemilik Perusahaan (INVESTOR)
Tugas utamanya adalah mengelola perusahaan. Dalam bidang ini yaitu bisnis pengolahan rumput laut menjadi agar , pemilik harus memiliki pengetahuan yang mendalam mulai dari berapa pengucuran dana awal untuk proses produksi, pembuatan model, pemilihan bahan baku, produksi, sampai pemasara dan pemilik perusahaan juga sebagai penanggung jawab utama atas surut atau berkembangnya perusahaan. Berikut ini rincian tugas pemilik perusahaan :
1. Mengucurkan dana awal untuk proses produksi.
2. Menentukan model produk souvenir.
3. Mencari dan menentukan bahan yang akan dipakai sebagai bahan produk.
4. Menentukan karyawan beserta tugas bagi karyawan.
5. Mengawasi proses pembuatan produk.
6. Memeriksa produk yang sudah jadi.
7. Menggaji karyawan secara langsung.
8. Mengawasi proses pendistribusian dan pemasaran
Karyawan
Dalam pengelolaannya bisnis ini mengandalkan tenaga-tenaga terampil yang berasal dari desa Patas. Jadi untuk jumlah tenaga kerja kita tidak bisa tentukan berapa yang akan digunakan, tetapi penggunaan tenaga kerja biasanya menurut peluang pasar.
III. ASPEK TEKNIS
LOKASI PERUSAHAAN
Lokasi usaha pengolahan agar sangat strategis karena wilayah desa Patas merupakan salah satu sentra penghasil rumput laut.
DATA PERUSAHAAN
1) Nama Perusahaan : PT. Tambak Adi Sarana Permai
2) Bidang Usaha : Pengolahan agar dari rumput laut
3) Jenis Produk : Agar
4) Alamat : Jl. Seririt-Gilimanuk, Singaraja, Bali
5) No telp : (0362) 24365
Teknologi Proses Produksi
Bahan dan Alat
Bahan
1) Rumput laut jenis Gracilaria
2) Air bersih
3) Larutan kaporit 0,5%
4) NaOH 3 %
5) Asam cuka
Alat
1) Bak pencuci rumput laut
2) Tangki pemasak
3) Alat penyaring (filter press)
4) Alat tekan dengan beban
5) Tempat pembekuan agar dalam Loyang atau paralon (PVC)
6) Ruang pendingin
7) Alat cetak unutk agar
8) Mesin penepung (bila hasilnya berbentuk tepung)
9) Alat pengemas
Proses Produksi
Dalam proses produksi usaha pengolahan agar pada dasarnya sangat mudah dan bisa dijalankan secara sederhana. Berikut langkah-langkah produksi dari usaha pengolahan agar dari rumput laut:
1) Siapkan bahan baku, biasanya digunakan rumput laut jenis Gracilaria.
2) Pencucian : cuci rumput laut hingga bersih dalam bak pencuci untuk menghilangkan garam, pasir, kotoran lainya.
3) Pemucatan : rendam rumput laut tersebut dalam larutan kaporit 0,5% selama ½ jam. Kemudian bilas rendaman rumput laut dengan air tawar untuk menghilangkan bau kaporit.
4) Perlakuan alkali: masak rumput laut dalam larutan alkali NaOH 3% selama 1 jam pada temperatur 85-90 oC.
5) Netralisasi: cuci kembali rumput laut sampai netral.
6) Ekstrasi dalam suasana asam: masak rumput laut dalam tangki pemasak pada temperature 95oC selama 4 – 6 jam mencapai pH sekitar 6,0. Sesekali aduk merata rumput laut hingga hancur membentuk bubur/pasta.
7) Penyaringan: pisahkan antara filtrat dan residu menggunakan saringan yang bertekanan.
8) Pembentukan gel: tamping filtrate dalam cetakan untuk menghasilkan agar batang atau dalam wadah, kemudian dinginkan agar dengan cara disimpan sampai membentuk gel.
9) Pengeringan produk agar: keluarkan agar dalam bentuk gel dari cetakan, lalu jemur hingga menjadi agar batang kering. Sementara itu bila ingin dibuat produk agar kertas maka ebelum agar beku dikeringkan, potong – potong terlebih dahulu, lalu masukan di antara dua lembar kain berukuran ( 30 x 40 cm ). Tekan dengan beban untuk menghasilkan lembaran agar, lalu angin – anginkan dan jemur.
10) Penepungan : gerus dengan mesin penepung kedua produk agar diatas untuk mendapatkan produk dalam bentuk tepung (grinding dan milling).
11) Pengemasan kemas agar batang, kertas, atau tepung yang dihasilkan dalam kemasan menarik agar siap dipasarkan.
IV. ASPEK PEMASARAN
Segmentasi Pasar
Di beberapa bagian sebelumnya sudah sangat jelas bahwa target pasar dari bisnis adalah para perusahaan pangan dan nono pangan yang menggunakan campuran agar sebagai pengolahan produknya. Produk ditawarkan nantinya juga akan sanga memperhatikan peluang pasar baik nasional maupun internasional.
Strategi Pemasaran
Dalam pemasarannya kami sudah merencanakan bahwa produk-produk dari agar ini antara lain akan dipasarkan melalui :
1) Para dictributor rumput laut
2) Para sales
3) Masyarakat sekitar desa Patas
Selain target pemasaran di atas kami juga akan bekerja sama dengan Dinas Perikanan kota Singaraja untuk mencarikan para pembeli agar dalam jumlah yang besar.
V. ASPEK KEUANGAN
Kebutuhan dana untuk usaha souvenir dalam satu bulan antara lain sebagai berikut
Uraian Unit Harga satuan Jumlah Keterangan
Investasi
Modal Pemilik 1 100.000.000 100.000.000
Jumlah Modal 100.000.000
Pengeluaran
Bangunan/ gudang 20 x 20 m2 1 20.000.000
Mesin penyaring 1 5.000.000 5.000.000
Mesin pengepakan 1 20.000.000 20.000.000
pendingin 1 2.000.000 2.000.000
Bahan baku rumput laut 1000 4500 4.500.000 Bahan baku dikirim per truck
Perizinan 250. 000 250.000 di beli perset
Tangki pemasak 100.000 300.000
PVC 3 100.000 300.000
Mesin penepung 1 250.000 250.000
Alat tekan beban 1 500.000 500.000
Bahan lain - lain 100.000 100.000 di beli perset
Transportasi 300.000
Jumlah Modal
100.000.000
Jumlah Pengeluaran 53.500.000
Sisa Saldo 46.500.000
VI. ASPEK SOSIAL EKONOMI
Dengan adanya usaha pengolahan agar ini selaku pihak pengusaha mencoba untuk membantu mengembalikan kondisi ekonomi masyarakat desa Patas saat ini yang sudah mulai bangkit. Meskipun sudah mulai pulih akan tetapi banyak masyarakat desa Patas yang masih memerlukan lapangan pekerjaan tambahan. Oleh sebab itu usaha bisnis pengolahan agar ini diharapkan mampu untuk menyerap tenaga-tenaga kerja baru yang tadinya tidak mempunyai pekerjaan dan penghasilan. Disamping itu secara psikologis para pekerja yang tadinya menganggur bisa lebih merasa percaya diri dan berguna di lingkungan masayarakat.
Bila dilihat dari sisi hasil produksi nantinya. Jika semakin banyak produk yang berhasil diproduksi lalu dijual ke konsumen secara kontinyu dan berkesinambungan maka kami sebagai pihak pengusaha optimis bahwa akan meningkatkan pendapatan dan kesehjateraan kami sebagai pengusaha.
Bukan itu saja nantinya keuntungan juga akan bisa dirasakan oleh pihak pemerintah yaitu meningkatnya pendapatan dari sektor pajak.
VII. ASPEK LINGKUNGAN
Ditinjau dari segi aspek lingkungan terlihat tidak ada masalah berarti yang dapat merusak lingkungan hidup, melainkan dapat melestarikan pantai yang digunakan dalam proses budidaya rumput laut yang notabene merupakan bahan baku agar.
Langganan:
Komentar (Atom)