Selasa, 12 Mei 2009
BUSSINES PLAN
RINGKASAN EKSEKUTIF
Rumput laut atau sea weed merupakan salah satu tanaman laut yang keberadaanya sudah tidak asing lagi dikalangan masyarakt terutama masyarakat pesisir. Indonesia merupakan salah satu Negara no 2 terbesar sesudah Filipina yang memproduksi rumput laut karena dua pertiga wilayah Indonesia merupakan lautan yang sangat potensial di bidang perikanan terutama rumput laut. Daerah penyebaran rumput laut hampir di seluruh wilayah Indonesia. Rumput laut juga merupakan salah satu tanaman laut yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Nilai ekonomis dapat dilihat dari kandungan yang dihasilkan antara lain keragenan, agar, dan alginat yang merupakan bahan campuran pada setiap produk pangan maupun non pangan.
Pendirian bisnis ini adalah sebagai wadah usaha yang berusaha mewujudkan tujuan utama desa Patas. Tujuan utama didirikannya usaha ini adalah untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya, tanpa keluar dari jalur bisnis yang sesuai dengan aturan yang baik dan benar. Tujuan sosial dari perusahaan ini adalah membantu mengurangi pengangguran dan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat desa Patas dan memeperbaiki sistem perekonomianya.
DAFTAR ISI
RINGKASAN EKSEKUTIF………………………………………………………. 1
DAFTAR ISI……………………………………………………………………… 2
PENDAHULUAN………………………………………………………………… 3
PRODUK JASA YANG DITAWARKAN……………………………………… 4
ASPEK MANAJEMEN…………………………………………………………… 5
ASPEK TEKNIS…………………………………………………………………… 7
ASPEK PEMASARAN…………………………………………………………… 11
ASPEK KEUANGAN…………………………………………………………… 12
ASPEK SOSIAL EKONOMI…………………………………………………… 13
ASPEK LINGKUNGAN………………………………………………………… 13
BUDIDAYA RUMPUT LAUT (Eucheuma cottonii) DI DESA PATAS GUNA MEMENUHI KEBUTUHAN PASAR INTERNASIONAL
I. PENDAHULUAN
Rumput laut atau sea weed merupakan salah satu tanaman laut yang keberadaanya sudah tidak asing lagi dikalangan masyarakat terutama masyarakat pesisir. Indonesia merupakan salah satu Negara no 2 terbesar sesudah Filipina yang memproduksi rumput laut karena dua pertiga wilayah Indonesia merupakan lautan yang sangat potensial di bidang perikanan terutama rumput laut. Daerah penyebaran rumput laut hampir di seluruh wilayah Indonesia. Rumput laut juga merupakan salah satu tanaman laut yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Nilai ekonomis tinggi dapat dilihat dari kandungan yang dihasilkan antara lain keragenan, agar, dan alginat yang merupakan bahan campuran pada setiap produk pangan maupun non pangan.
Potensi rumput laut ini tersebar di seluruh perairan Indonesia kurang lebih 2 juta ha yang dapat dimanfaatkan secara efektif untuk budidaya (Tabel 1).
Peningkatan taraf hidup masyarakat desa Patas harus ditingkatkan melihat desa Patas merupakan daerah endemik yang perekonomianya tidak stabil ini disebabkan desa Patas kekurangan lapangan pekerjaan sehingga banyaknya pengganguran terutama masyarakat pesisir. Berjalanya bisnis produksi rumput laut ini diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat dan peningkatan sistem perekonomian desa Patas serta mengurangi pengganguran
Pendirian bisnis ini adalah sebagai wadah usaha yang berusaha mewujudkan tujuan utama desa Patas. Tujuan utama didirikannya usaha ini adalah untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya, tanpa keluar dari jalur bisnis yang sesuai dengan aturan yang baik dan benar. Tujuan sosial dari perusahaan ini adalah membantu mengurangi pengangguran dan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat desa Patas dan memeperbaiki sistem perekonomianya.
II. ASPEK MANAJEMEN
Struktur organisasi usaha
Pemilik Modal atau Pembudidaya
Tugas utamanya adalah mengelola budidaya. Dalam bidang ini yaitu bisnis budidaya rumput laut, pemilik harus memiliki pengetahuan yang mendalam mulai dari berapa pengucuran dana awal untuk proses produksi, pembuatan model, pemilihan bahan baku, produksi, sampai pemasaran dan pemilik perusahaan juga sebagai penanggung jawab utama atas surut atau berkembangnya perusahaan.
Karyawan
Budidaya rumput laut tidak harus menggunakan tenaga yang terampil. Karyawan bisa kita ambil dari para nelayan yang tidak memilki pekerjaan dan tidak tetap sebagai nelayan, biasanya para nelayan sudah ada yang memiliki pengalaman di bidang budidaya rumput lauyt.
III. ASPEK TEKNIS
LOKASI BUDIDAYA
Lokasi budidya dilaksanakan di pesisir desa Patas Kecamatan Gerokgak, Bali.
Teknik budidaya rumput laut dapat dibagi atas 4 tahap antara lain:
1) Pemilihan Lokasi
2) Persiapan Penanaman
3) Penanaman
4) Pemeliharaan
1 Pemilihan Lokasi
Keberhasilan budidaya rumput laut sangat ditentukan olah penentuan lokasi. Hal ini dikarenakan produksi dan kualitas rumput laut dipengaruhi oleh faktor – faktor ekologi yang meliputi kondisi substrat perairan, kualitas air, iklim, dan geografis dasar perairan. Kondisi dasar perairan yang baik bagi habitat rumput laut berupa pasir kasar yang bercampur dengan pecahan karang. Tingkat kejernihan air untuk budidaya E. cottonii keadaan perairan relatif jernih dengan tingkat kecerahan tinggi dan tampakan dengan alat sechidisk mencapai 2 – 5 m. Salinitas yang baik untuk pertumbuhan E. cottonii yang optimal berkisar antara 28 – 33 permil. Suhu air optimal untuk tanaman berkisar 26 – 30 oC. Pergerakan air untuk E. cottonii terlindung dari arus dan hempasan ombak yang terlalu kuat. Pergerakan air berkisar 0,2 – 0,4 m/detik. Kedalaman air yang ideal bagi budidaya pada saat surut terendah 0,40 m sampai kedalaman matahari bisa mencapai tanaman dan petani mampu melakukan kegiatan. Budidaya juga harus memeperhatikan predator dan kompetitor seperti ikan baronang, penyu, bulu babi, dan herbivora lainya.
2 Persiapan Penanaman
Persiapan penanaman rumput laut E. cottonii meliputi penyediaan peralatan budidaya sesuai dengan metode yang akan digunakan serta penyediaan bibit yang baik. Secara garis besar peralatan yang digunakan antara lain patok kayu, bambu, jangkar, tali polietilen (tambang plastik), tali raffia, dan pelampung. Persiapan penanaman yang paling penting yaitu pemilihan dan penanganan bibit rumput laut sebelum ditanam.
Kriteria bibit yang baik antara lain:
1) Bibit yang digunakan merupakan thallus muda bercabang banyak, rimbun, dan berujung runcing.
2) Bibit tanaman harus sehat dan tidak terdapat bercak , luka, atau terkelupas sebagai akibat terserang penyakit ice – ice atau terkena bahan cemaran seperti minyak.
3) Bibit rumput laut E. cottonii harus terlihat segar dan berwarna cerah, yaitu coklat merah, dan hijau cerah.
4) Bibit harus seragam dan tidak boleh bercampur dengan jenis lainya.
5) Berat bibit awal diupayakan seragam , sekitar 100 gram per ikatan/ rumpun.
3 Penanaman
Metode yang digunakan masyarakat desa Patas yaitu metode rawai karena merupakan cara yang paling fleksibel dalam pemilihan lokasi dan juga biaya yang dikeluarkan lebih murah. Teknik budidaya rumnput laut E. cottonii dengan metode rawai sebagai berikut:
1) Ikat bibit rumput laut pada tali ris dengan jarak 25 cm dan panjang tali ris mencapai 50 – 70 m yang direntangkan pada tali utama.
2) Ikatkan tali jangkar pada kedua ujung tali utama yang dibawahnya sudah diikatkan pada jangkar, batu karang, atau batu pemberat.
3) Untuk mengapungkan rumput laut, ikatkan pelampung dari sterofoam, botol Aqua, atau pelampung khusus pada tali ris.
4) Ikatkan pelampung – pelampung tersebut dengan tali penghubung ke tali ris sepanjang 10 – 15 cm supaya rumput laut tidak mengapung di permukaan dan tanaman diupayakan tetap berada pada kedalaman 10 – 15 cm di bawah permukaan air laut.
Peralatan dan bahan yang diperlukan untuk satu blok yang terdiri dari 6 rentangan tali ris dengan luas balok satu balok ( 5 x 50 ) m (panjang tali ris 50 m dengan jarak antar tali ris 1 m) antara lain sebagai berikut:
1) Tali ris polietilen Ǿ 8 mm sebanyak 8 kg.
2) Tali jangkar dan tali utama polietilen Ǿ 10 mm sebanyak 4,5 kg, tergantung dari kedalaman air.
3) Jangkar, patok kayu, atau batu pemberat sebanyak 4 buah.
4) Tali raffia, satu gulung kecil sebanyak 2 kg.
5) Bibit rumput laut sebanyak 100 kg.
6) Pelampunng utama sebanyak 6 buah
7) Pelampung kecil botol polietilen sebanyak 100 buah
8) Peralatan lainya, berupa keranjang, pisau dan sampan.
4 Pemeliharaan
Pemeliharaan pertumbuhan rumput laut untuk metode rawai yaitu membersihkan lumpur dan kotoran yang melekat pada rumput laut, menyulam rumput laut yang rusak atau terlepas dari ikatan, mengganti tali, patok, bambu, dan pelampung yang rusak dan menjaga tanaman dari serangan predator.
VI. ASPEK PEMASARAN
Segmentasi Pasar
Di beberapa bagian sebelumnya sudah sangat jelas bahwa target pasar dari bisnis budidaya rumput laut E. cottonii adalah para perusahaan pangan dan non pangan yang menggunakan campuran rumput laut sebagai pengolahan produknya. Produk ditawarkan nantinya juga akan sangat memperhatikan peluang pasar baik nasional maupun internasional.
Strategi Pemasaran
Dalam pemasarannya kami sudah merencanakan bahwa hasil dari budidaya rumput laut antara lain akan dipasarkan melalui :
1) Para distributor rumput laut
2) Masyarakat sekitar desa Patas
Selain target pemasaran di atas kami juga akan bekerja sama dengan Dinas Perikanan kota Singaraja untuk mencarikan para pembeli rumput laut kering maupun basah dalam jumlah yang besar.
V. ASPEK KEUANGAN
Uraian jumlah Harga satuan jumlah
Modal
1 Tali 8mm (kg) 8 20.000 160.000
2 Tali 9-10 mm (kg) 4,5 20.000 90.000
3 Botol mineral 1000 100 100.000
4 Pelampung utama 6 5.000 30.000
5 Tali raffia (kg) 2 5.000 10.000
6 Bibit rumput laut (kg) 100 1.500 150.000
7 Perizinan 1 100.000 100.000
8 Sampan 1 150.000 150.000
TOTAL MODAL 790.000
IV. ASPEK SOSIAL EKONOMI
Dengan adanya usaha budidaya rumput laut ini selaku pengusaha mencoba untuk membantu mengembalikan kondisi ekonomi masyarakat desa Patas saat ini yang sudah mulai bangkit. Meskipun sudah mulai pulih akan tetapi banyak masyarakat desa Patas yang masih memerlukan lapangan pekerjaan tambahan. Oleh sebab itu usaha bisnis budidaya rumput laut ini diharapkan mampu untuk menyerap tenaga-tenaga kerja baru yang tadinya tidak mempunyai pekerjaan dan penghasilan. Disamping itu secara psikologis para pekerja yang tadinya menganggur bisa lebih merasa percaya diri dan berguna di lingkungan masayarakat.
Bila dilihat dari sisi hasil produksi nantinya. Jika semakin banyak produk yang berhasil diproduksi lalu dijual ke konsumen secara kontinyu dan berkesinambungan maka kami sebagai pihak pengusaha optimis bahwa akan meningkatkan pendapatan dan kesehjateraan kami sebagai pengusaha. Bukan itu saja nantinya keuntungan juga akan bisa dirasakan oleh pihak pemerintah yaitu meningkatnya pendapatan dari sektor pajak.
V. ASPEK LINGKUNGAN
Ditinjau dari segi aspek lingkungan terlihat tidak ada masalah berarti yang dapat merusak lingkungan hidup, melainkan dapat melestarikan pantai yang digunakan dalam proses budidaya rumput laut yang notabene merupakan tanaman yang berada di daerah pesisir yang memiliki nilai ekonomis tinggi.
Senin, 04 Mei 2009
BUSSINES PLAN
RINGKASAN EKSEKUTIF
Rumput laut atau sea weed merupakan salah satu tanaman laut yang keberadaanya sudah tidak asing lagi dikalangan masyarakt terutama masyarakat pesisir. Indonesia merupakan salah satu Negara no 2 terbesar sesudah Filipina yang memproduksi rumput laut karena dua pertiga wilayah Indonesia merupakan lautan yang sangat potensial di bidang perikanan terutama rumput laut. Daerah penyebaran rumput laut hampir di seluruh wilayah Indonesia. Rumput laut juga merupakan salah satu tanaman laut yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Nilai ekonomis dapat dilihat dari kandungan yang dihasilkan antara lain keragenan, agar, dan alginat yang merupakan bahan campuran pada setiap produk pangan maupun non pangan.
Pendirian bisnis ini adalah sebagai wadah usaha yang berusaha mewujudkan tujuan utama desa Patas. Tujuan utama didirikannya usaha ini adalah untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya, tanpa keluar dari jalur bisnis yang sesuai dengan aturan yang baik dan benar. Tujuan sosial dari perusahaan ini adalah membantu mengurangi pengangguran dan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat desa Patas dan memeperbaiki sistem perekonomianya.
DAFTAR ISI
RINGKASAN EKSEKUTIF………………………………………………………. 1
DAFTAR ISI……………………………………………………………………… 2
PENDAHULUAN………………………………………………………………… 3
PRODUK JASA YANG DITAWARKAN……………………………………… 4
ASPEK MANAJEMEN…………………………………………………………… 5
ASPEK TEKNIS…………………………………………………………………… 7
ASPEK PEMASARAN…………………………………………………………… 11
ASPEK KEUANGAN…………………………………………………………… 12
ASPEK SOSIAL EKONOMI…………………………………………………… 13
ASPEK LINGKUNGAN………………………………………………………… 13
PRODUKSI AGAR DARI RUMPUT LAUT SECARA SEDERHANA DI DESA PATAS GUNA MEMENUHI PELUANG PASAR INTERNASIONAL
I. PENDAHULUAN
Rumput laut atau sea weed merupakan salah satu tanaman laut yang keberadaanya sudah tidak asing lagi dikalangan masyarakat terutama masyarakat pesisir. Indonesia merupakan salah satu Negara no 2 terbesar sesudah Filipina yang memproduksi rumput laut karena dua pertiga wilayah Indonesia merupakan lautan yang sangat potensial di bidang perikanan terutama rumput laut. Daerah penyebaran rumput laut hampir di seluruh wilayah Indonesia. Rumput laut juga merupakan salah satu tanaman laut yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Nilai ekonomis tinggi dapat dilihat dari kandungan yang dihasilkan antara lain keragenan, agar, dan alginat yang merupakan bahan campuran pada setiap produk pangan maupun non pangan.
Potensi rumput laut ini tersebar di seluruh perairan Indonesia kurang lebih 2 juta ha yang dapat dimanfaatkan secara efektif untuk budidaya (Tabel 1).
Peningkatan taraf hidup masyarakat desa Patas harus ditingkatkan melihat desa Patas merupakan daerah endemik yang perekonomianya tidak stabil ini disebabkan desa Patas kekurangan lapangan pekerjaan sehingga banyaknya pengganguran terutama masyarakat pesisir. Berjalanya bisnis produksi rumput laut ini diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat dan peningkatan sistem perekonomian desa Patas serta mengurangi pengganguran
Pendirian bisnis ini adalah sebagai wadah usaha yang berusaha mewujudkan tujuan utama desa Patas. Tujuan utama didirikannya usaha ini adalah untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya, tanpa keluar dari jalur bisnis yang sesuai dengan aturan yang baik dan benar. Tujuan sosial dari perusahaan ini adalah membantu mengurangi pengangguran dan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat desa Patas dan memeperbaiki sistem perekonomianya.
PRODUK DAN JASA YANG DITAWARKAN
Produk yang akan dihasilkan dari pengolahan rumput laut adalah agar yang merupakan bahan campuran pada setiap produk pangan dan non pangan. Pengolahan agar ini menggunakan rumput laut jenis Gracilaria yang merupakan pengahsil agar tertinggi diantara jenis rumput laut. Pembuatan agar secara sederhana dapat dilakukan dalam skala usaha kecil (UKM). Peralatan yang digunakan lebih efektif dan tidak sulit untuk dicari, sehingga dalam pengolahanya tidak terlalu sulit. Berjalanya bisnis ini tidak lain untuk memenuhi peluang pasar secara internasional dan dapat menekan penganggura.
II. ASPEK MANAJEMEN
Struktur organisasi usaha
Pemilik Perusahaan (INVESTOR)
Tugas utamanya adalah mengelola perusahaan. Dalam bidang ini yaitu bisnis pengolahan rumput laut menjadi agar , pemilik harus memiliki pengetahuan yang mendalam mulai dari berapa pengucuran dana awal untuk proses produksi, pembuatan model, pemilihan bahan baku, produksi, sampai pemasara dan pemilik perusahaan juga sebagai penanggung jawab utama atas surut atau berkembangnya perusahaan. Berikut ini rincian tugas pemilik perusahaan :
1. Mengucurkan dana awal untuk proses produksi.
2. Menentukan model produk souvenir.
3. Mencari dan menentukan bahan yang akan dipakai sebagai bahan produk.
4. Menentukan karyawan beserta tugas bagi karyawan.
5. Mengawasi proses pembuatan produk.
6. Memeriksa produk yang sudah jadi.
7. Menggaji karyawan secara langsung.
8. Mengawasi proses pendistribusian dan pemasaran
Karyawan
Dalam pengelolaannya bisnis ini mengandalkan tenaga-tenaga terampil yang berasal dari desa Patas. Jadi untuk jumlah tenaga kerja kita tidak bisa tentukan berapa yang akan digunakan, tetapi penggunaan tenaga kerja biasanya menurut peluang pasar.
III. ASPEK TEKNIS
LOKASI PERUSAHAAN
Lokasi usaha pengolahan agar sangat strategis karena wilayah desa Patas merupakan salah satu sentra penghasil rumput laut.
DATA PERUSAHAAN
1) Nama Perusahaan : PT. Tambak Adi Sarana Permai
2) Bidang Usaha : Pengolahan agar dari rumput laut
3) Jenis Produk : Agar
4) Alamat : Jl. Seririt-Gilimanuk, Singaraja, Bali
5) No telp : (0362) 24365
Teknologi Proses Produksi
Bahan dan Alat
Bahan
1) Rumput laut jenis Gracilaria
2) Air bersih
3) Larutan kaporit 0,5%
4) NaOH 3 %
5) Asam cuka
Alat
1) Bak pencuci rumput laut
2) Tangki pemasak
3) Alat penyaring (filter press)
4) Alat tekan dengan beban
5) Tempat pembekuan agar dalam Loyang atau paralon (PVC)
6) Ruang pendingin
7) Alat cetak unutk agar
8) Mesin penepung (bila hasilnya berbentuk tepung)
9) Alat pengemas
Proses Produksi
Dalam proses produksi usaha pengolahan agar pada dasarnya sangat mudah dan bisa dijalankan secara sederhana. Berikut langkah-langkah produksi dari usaha pengolahan agar dari rumput laut:
1) Siapkan bahan baku, biasanya digunakan rumput laut jenis Gracilaria.
2) Pencucian : cuci rumput laut hingga bersih dalam bak pencuci untuk menghilangkan garam, pasir, kotoran lainya.
3) Pemucatan : rendam rumput laut tersebut dalam larutan kaporit 0,5% selama ½ jam. Kemudian bilas rendaman rumput laut dengan air tawar untuk menghilangkan bau kaporit.
4) Perlakuan alkali: masak rumput laut dalam larutan alkali NaOH 3% selama 1 jam pada temperatur 85-90 oC.
5) Netralisasi: cuci kembali rumput laut sampai netral.
6) Ekstrasi dalam suasana asam: masak rumput laut dalam tangki pemasak pada temperature 95oC selama 4 – 6 jam mencapai pH sekitar 6,0. Sesekali aduk merata rumput laut hingga hancur membentuk bubur/pasta.
7) Penyaringan: pisahkan antara filtrat dan residu menggunakan saringan yang bertekanan.
8) Pembentukan gel: tamping filtrate dalam cetakan untuk menghasilkan agar batang atau dalam wadah, kemudian dinginkan agar dengan cara disimpan sampai membentuk gel.
9) Pengeringan produk agar: keluarkan agar dalam bentuk gel dari cetakan, lalu jemur hingga menjadi agar batang kering. Sementara itu bila ingin dibuat produk agar kertas maka ebelum agar beku dikeringkan, potong – potong terlebih dahulu, lalu masukan di antara dua lembar kain berukuran ( 30 x 40 cm ). Tekan dengan beban untuk menghasilkan lembaran agar, lalu angin – anginkan dan jemur.
10) Penepungan : gerus dengan mesin penepung kedua produk agar diatas untuk mendapatkan produk dalam bentuk tepung (grinding dan milling).
11) Pengemasan kemas agar batang, kertas, atau tepung yang dihasilkan dalam kemasan menarik agar siap dipasarkan.
IV. ASPEK PEMASARAN
Segmentasi Pasar
Di beberapa bagian sebelumnya sudah sangat jelas bahwa target pasar dari bisnis adalah para perusahaan pangan dan nono pangan yang menggunakan campuran agar sebagai pengolahan produknya. Produk ditawarkan nantinya juga akan sanga memperhatikan peluang pasar baik nasional maupun internasional.
Strategi Pemasaran
Dalam pemasarannya kami sudah merencanakan bahwa produk-produk dari agar ini antara lain akan dipasarkan melalui :
1) Para dictributor rumput laut
2) Para sales
3) Masyarakat sekitar desa Patas
Selain target pemasaran di atas kami juga akan bekerja sama dengan Dinas Perikanan kota Singaraja untuk mencarikan para pembeli agar dalam jumlah yang besar.
V. ASPEK KEUANGAN
Kebutuhan dana untuk usaha souvenir dalam satu bulan antara lain sebagai berikut
Uraian Unit Harga satuan Jumlah Keterangan
Investasi
Modal Pemilik 1 100.000.000 100.000.000
Jumlah Modal 100.000.000
Pengeluaran
Bangunan/ gudang 20 x 20 m2 1 20.000.000
Mesin penyaring 1 5.000.000 5.000.000
Mesin pengepakan 1 20.000.000 20.000.000
pendingin 1 2.000.000 2.000.000
Bahan baku rumput laut 1000 4500 4.500.000 Bahan baku dikirim per truck
Perizinan 250. 000 250.000 di beli perset
Tangki pemasak 100.000 300.000
PVC 3 100.000 300.000
Mesin penepung 1 250.000 250.000
Alat tekan beban 1 500.000 500.000
Bahan lain - lain 100.000 100.000 di beli perset
Transportasi 300.000
Jumlah Modal
100.000.000
Jumlah Pengeluaran 53.500.000
Sisa Saldo 46.500.000
VI. ASPEK SOSIAL EKONOMI
Dengan adanya usaha pengolahan agar ini selaku pihak pengusaha mencoba untuk membantu mengembalikan kondisi ekonomi masyarakat desa Patas saat ini yang sudah mulai bangkit. Meskipun sudah mulai pulih akan tetapi banyak masyarakat desa Patas yang masih memerlukan lapangan pekerjaan tambahan. Oleh sebab itu usaha bisnis pengolahan agar ini diharapkan mampu untuk menyerap tenaga-tenaga kerja baru yang tadinya tidak mempunyai pekerjaan dan penghasilan. Disamping itu secara psikologis para pekerja yang tadinya menganggur bisa lebih merasa percaya diri dan berguna di lingkungan masayarakat.
Bila dilihat dari sisi hasil produksi nantinya. Jika semakin banyak produk yang berhasil diproduksi lalu dijual ke konsumen secara kontinyu dan berkesinambungan maka kami sebagai pihak pengusaha optimis bahwa akan meningkatkan pendapatan dan kesehjateraan kami sebagai pengusaha.
Bukan itu saja nantinya keuntungan juga akan bisa dirasakan oleh pihak pemerintah yaitu meningkatnya pendapatan dari sektor pajak.
VII. ASPEK LINGKUNGAN
Ditinjau dari segi aspek lingkungan terlihat tidak ada masalah berarti yang dapat merusak lingkungan hidup, melainkan dapat melestarikan pantai yang digunakan dalam proses budidaya rumput laut yang notabene merupakan bahan baku agar.
Sabtu, 04 April 2009
Teknologi Alternatif Pemanfaatan Limbah Air Kelapa untuk peningkatan Kualitas Produksi Budidaya Rumput Laut E.cottonii di Daerah Endemik Desa Patas.
PEMANFAATAN LIMBAH AIR KELAPA UNTUK MEDIA PENGKAYA SISTEM BUDIDAYA RUMPUT LAUT (Eucheuma cottonii)
BAGI NELAYAN DESA PATAS KECAMATAN GEROKGAK, KABUPATEN BULELENG, PROPINSI BALI
Carles sugara1), Rahmat Sandi R.2) Ngurah Permanana3), Uun Yanuhar4)
1)Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya
2) Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya
3) Staf Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut, Gondol
ABSTRAK
E. cottonii adalah salah satu jenis rumput laut yang tersebar luas di wilayah Indonesia dan merupakan komoditas eksport non migas. Upaya peningkatan kualitas produksi rumput laut diperlukan interfensi manusia yakni dengan pemanfaatan limbah air kelapa. Tujuan penelitian adalah mengetahui laju pertumbuhan dan produksi E. cottonii dengan perendaman dengan media air kelapa. Metode penelitian ini adalah metode rakit apung. Keuntungan metode ini adalah efektif dalam pemanfaatan budidaya, efektifitas yang terukur dalam bentuk waktu panen, hasil panen lebih cepat dan berkurangnya tingkat kerusakan hasil panen. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukan bahwa laju pertumbuhan E. cottonii yang mendapat perlakuan perendaman air kelapa meningkat pada minggu ke-1 dan ke-2 dengan selisih peningkatan berat basah E. cottoni sebanyak 6,25 gram, sedangkan peningkatan laju pertumbuhan pada rumput laut E. cottonii tanpa perlakuan perendaman pada minggu ke-3 dan ke-4 hanya menunjukkan peningkatan sebanyak 2,44 gram. Laju pertumbuhan rumput laut dengan perlakuan pada minggu ke-3 dan ke-4 mengalami penurunan berat basah secara drastis karena disebabkan hama dan penyakit. Berdasarkan hasil ini dapat dilihat bahwa perbedaan peningkatan selisih berat basah E. cottoni dipengaruhi oleh perlakuan media air kelapa. Kesimpulan penilitian ini adalah media air kelapa berpengaruh positif terhadap peningkatan laju pertumbuhan E. cottoni yang ditunjukkan oleh meningkatnya berat basah pada minggu ke-1 dan ke-2 sebanyak 6,25 gram yang berarti pada minggu ke-1 sampai k-4 merupakan fase pembibitan.
Kata–kata kunci : air kelapa, E. cottonii, media pengkaya, nelayan
.
ABSTRACT
E. cottonii is one of seaweeds species which spread in Indonesian side and it’s non migas export commodity. Efort raising quality production of seaweed needed humans interfention that is using coconuts water waste. The purpose of this research is to know growth rate and production of E. cottonii by soaking with coconuts water media. This research method is floating method. The profit of this method is effective in using aquaculture, measure in harvests time, the harvests result is faster and decreasing of harvest result depreving. The researchs result gotten showed that growth rate of E. cottoni that got a soaking action of coconuts water increase on first week and second week with difference increase of E. cottoniis wet weight is 6,25 gram, while increasing of growth rate on E.cottonii without action on third week and fourth week have experienced decrease of wet weight rapidly because plant pest and disease. Basic from this result it can be looked that the different increasing difference wet weight of E. cottonii is influenced by act coconuts water. Conclusion of this research is coconuts water is influential to increas of wet weight on first week and second week, it’s 6,25 gram and it mean on first week till fourth week it’s seedling phase.
Key words : coconuts water, E. cottonii, enrichment media, fisherman.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Rumput laut (E. cottoni) sebagai tanaman yang hidup di perairan. Rumput laut (sea weed) mempunyai nilai ekonomi dan sosial yang tinggi bagi masyarakat pesisir. Nilai ekonomis tersebut dikarenakan rumput laut mampu menghasilkan karagenan dan agar. Dua jenis komponen tersebut berperan sebagai emulsifying agent, formatting agent, binding agent dan gelling agent yang sangat diperlukan dalam industri makanan, kosmetik maupun farmasi (Majalah Trobos , 2008).
Pengembangan budidaya rumput laut di Indonesia dirintis sejak tahun 1980-an dalam upaya perubahan kebiasaan penduduk pesisir dari pengambilan sumberdaya alam ke arah budidaya rumput laut yang ramah lingkungan dan usaha budidaya ini dapat meningkatkan pendapatan masyarakat pembudidaya juga dapat digunakan untuk mempertahankan kelestarian lingkungan perairan pantai (Ditjenkan Budidaya, 2004). Harapan dan tantangan tersebut tentunya tidak terlepas dari dukungan teknologi budidayanya. Kelapa merupakan tanaman endemik yang tumbuh di daerah tropis. Banyak manfaat kelapa mulai dari daun, batang, dan buah (daging dan air). Dengan melimpahnya kelapa sekarang, penggunaan kelapa kurang efektif misalnya pada air kelapa. Morel (1974) menjelaskan air kelapa salah satu bahan alami yang didalamnya terkandung hormon sitokinin 5,8 mg/l, auksin 0,07 mg/l, dan giberilin dalam jumlah sedikit serta senyawa lain yang dapat menstimulasi perkecambahan dan pertumbuhan.
Besar kemungkinan air kelapa mampu juga menjadi hormon pertumbuhan bagi E. cottoni dan hal ini perlu sekali untuk dibuktikan secara ilmiah. Pertumbuhan pohon kelapa yang berada di Bali cukup besar terutama di desa Patas, Gerokgak.
Tujuan
• Bagaimana pemanfaatan limbah air kelapa dalam peningkatan kualitas produksi rumput laut (Eucheuma cottonii)?
Manfaat
• Peningkatan produksi rumput laut (E. cottonii) dengan merangsang pertumbuhanya menggunakan limbah air kelapa.
METODOLOGI PENELITIAN
Tempat dan Waktu
1. Tahap perendaman rumput laut dilaksanakan di laboratorium kualitas air yang berada di Desa Patas Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali.
2. Penelitian ini dilaksanakan di perairan Desa Patas Kecamatan Gerokgak Kabupaten Buleleng Propinsi Bali pada bulan Februari–Maret .
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan adalah ember plastik, papan, tali plastik, tali nilon (polietilen), timbangan, pisau dan pelampung, sedangkan bahan meliputi air kelapa, bibit E. cotonii pada fase pembibitan dan air laut.
Metode pelaksanaan
Pembuatan Petak
Bambu yang telah disiapkan dipotong sebanyak 5 potong. Pada setiap ujung bambu diberikan pelampung berupa gabus agar tetap terapung di permukaan air selama kegiatan budidaya tersebut berlangsung. Petak dengan luas 3,5 m x 1,5 m dibagi menjadi 2 bagian memanjang sehingga luas masing–masing bagian 3,5 m x 0,75 m. Bagian yang direntangkan yakni tali nilon (polietilan) sepanjang 3,5 m dengan jarak simpul ikatan pada permukaan bambu (tali utama) 20 cm. Tali ini diberikan raffia dengan panjang 25 cm sebagai simpul pengikat rumput laut, dengan jarak masing–masing 25 cm dengan jumlah rentangan 4 tali.. Pada petak ini menggunakan sistem katrol agar lebih mudah untuk mengontrol dan memantau pertumbuhannya, apabila ingin dibawa ke pinggir pantai maka tinggal menarik tali tersebut begitu juga sebaliknya.
Penyediaan Bibit
Bibit yang dibudidayakan diambil dari stok alam. Rumput laut yang dijadikan bibit harus sehat, dan berwarna cerah yaitu merah agak kecoklatan cerah dan hijau cerah. Bagian rumput laut yang baik untuk dijadikan bibit adalah bagian ujung thallus yang masih muda dengan panjang kurang lebih 8–10 cm. Bibit rumput laut dipotong dengan menggunakan pisau.
Penanaman
Rumput laut ditimbang seberat 100 gram dan sebelum ditanam rumput laut direndam ke dalam air kelapa yang dicampur dengan air laut selama 30 menit dengan perbandingan 75% air kelapa dan 25% air laut dengan menggunakan petak yang sudah dirancang. Setiap petak ditanam rumput laut yang mendapat perlakuan dan tidak mendapat perlakuan.
Pemeliharaan
Pemeliharaan pada budidaya rumput laut hanya dilakukan dengan membersihkan lumpur dan kotoran yang melekat pada rumput laut, menyulam tanaman yang rusak atau lepas dari ikatan, mengganti tali, bambu dan pelampung yang rusak, dan menjaga tanaman dari serangan predator seperti ikan dan penyu.
Proses pengukuran atau penimbangan
Petak A dan petak B diambil rumput laut satu rentangan tali untuk mengetahui volume pertumbuhan rumput laut di minggu pertama dan dicatat hasilnya setelah ditimbang rumput laut tersebut tidak digunakan lagi pada budidaya karena apabila ditanam lagi maka akan berpengaruh terhadap pertumbuhan selanjutnya dan data yang diproleh tidak akan akurat. Pada minggu kedua dilakukan cara pengukuran yang sama dan dicatat hasilnya. Rumput laut yang diukur tersebut tidak digunakan lagi. Perhitungan volume pertumbuhan rumput laut dihitung hingga minggu keempat.
Metode Analisa Data
Pengukuran data berat dilakukan setiap satu minggu sekali. Data dianalisis dengan menggunakan uji BNT (Beda Nyata Terlihat). Beberapa parameter pertumbuhan diukur dengan menggunakan beberapa rumus yaitu
1. Laju Pertumbuhan (G)
Dimana
G = Laju Pertumbuhan (gram)
Wt = Berat Akhir (gram)
Wo = Berat Awal (gram)
2. Analisa produksi yang didasarkan pada metode.
P = G . Ŵ
Dimana:
P = produksi (gram)
G = laju pertumbuhan (gram/minggu)
Ŵ = biomassa rata–rata (gram)
W1 – W4 = biomassa minggu pertama hingga minggu keempat (gram)
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karateristik Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanankan tepatnya di Desa Patas, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali. Pesisir pantai yang berada di daerah Bali sekarang dimanfaatkan oleh para nelayan untuk membudidayakan rumput laut khususnya daerah Gerokgak. Hampir 80% masyarakat di sana adalah petani rumput laut. Para nelayan yang menggeluti budidaya rumput laut sekitar 180 nelayan di pesisir pantai Gerokgak. Budidaya rumput laut telah menjadi mata pencaharian baru yang memberi keuntungan ekonomis bagi para nelayan yang berada di Gerokgak terutama desa Patas.
Laju pertumbuhan E. cottonii berdasarkan perendaman.
Tingkat kesuburan di suatu daerah tergantung pada pada faktor lingkungan, antara lain substrat pasir, kondisi perairan, musim dan juga faktor lainya. Hal inilah yang menentukan suatu usaha budidaya yaitu pertumbuhan dan produksi. Pertumbuhan pada umumnya dinyatakan sebagai suatu proses peningkatan secara berangsur–angsur dalam berat. Sedangkan produksi merupakan penambahan biomassa yang berkaitan dengan hasil reproduksi dari suatu individu pada kurun waktu tertentu (Champan, dalam Benegal, 1978). Berakaitan dengan pernyataan tersebut, maka untuk mengetahui pertumbuhan dari E. cottonii dibutuhkan data berat dan waktu pemeliharaan selama kegiatan budidaya rumput laut dilaksanakan. Untuk memperoleh data berat telah dilakukan pengukuran terhadap pertambahan berat satu minggu sekali selama empat minggu.
Tabel 1. Laju pertumbuahan rumput laut yang mendapat perlakuan.
No Minggu Laju perumbuhan (gr)
Wo (gr) Wt (gr) G (gr) Keterangan
1 I 100 125,7 3,67
2 II 100 239 9,92
3 III 100 259 7,75
4 IV 100 279 6,3
Tabel 2. Laju pertumbuhan rumput laut yang tidak mendapat perlakuan
No Minggu Laju pertumbuhan (gr)
Wo (gr) Wt (gr) G (gr) Keterangan
1 I 100 121,4 3,05
2 II 100 187 6,21
3 III 100 261 7,66
4 IV 100 383 10,10
PENUTUP
Kesimpulan
• Air kelapa berpengaruh positif terhadap pertumbuhan rumput laut (E. cottonii)
Saran
• Penggunaan air kelapa dalam budidaya rumput laut perlu dilakukan agar para pembudidaya rumput laut bisa menacapai hasil yang optimal dan lebih besar dua kali lipat.
Langganan:
Komentar (Atom)